Miris, Begini Curahan Sakit Hati Istri Seorang Poligami atau Dimadu

Miris, Begini Curahan Sakit Hati Istri Seorang Poligami atau Dimadu Sedih, itu yang sekarang ini kurasakan. Bertahun-tahun kuabdikan hidupku menjadi istri serta ibu dari ke-3 anakmu. Kenyataannya dengan demikian gampang kau campakkan saya cuma karena saya tidak dapat memberikan seseorang anak wanita. Tanpa beban sedikitpun, kau kenalkan dia menjadi figur yang dapat kau harap dapat memuaskan impianmu. 
Miris, Begini Curahan Sakit Hati Istri Seorang Poligami atau Dimadu


Awalannya susah terima penghianatan ini. Saya selalu coba mengejarmu, mencapai tanganmu. Tetapi kau malah menampik uluran tanganku. Saya waktu lantas, serta wanita itu ialah hari esok, di mana harapanmu bertumpu. Sakit, perih, waktu saya tidak dapat meraihmu karena eratnya pelukannya. Putus harapan, akupun coba mencapai jalan terburuk yaitu melepasmu. 

Saat semua berkas telah siap dibawa ke pengadilan, tangan-tangan mungil anakmu memaksaku untuk membatalkan semua. Hatiku mendadak luluh serta tidak dapat menampik harapnya. Mungkin saja mereka benar, saya bisa jadi tidak memerlukan hadirmu, akan tetapi bagaimana dengan mereka? Tidak lakukan tindakan, saya merasa seperti kerbau dungu yang menurut saja lihat kelakuannya. Berjalan, saya malah terasa lemah saat melihat sorot mata lugu penuh berharap akan kemurahanku. 
Dalam diam kucoba bertahan, karena kutahu jika hidup tidak cuma masalah kalah dan menang. Hidup ialah perjuangan sampai titik darah penghabisan untuk mencapai kebahagiaan yang utama. Sekarang serta kelak, saya akan coba berdamai dengan hati yang semakin lara. Biarkanlah, walau berat kan kucoba menjaga luka diri yang mungkin saja cuma dapat pulih oleh hadirmu. 

“Ma, mengapa bapak makin jarang pulang ke rumah?”tanya sulungku waktu mengerti ketidak hadiran ayahnya sekian waktu lamanya. 
“Biasa, ayahmu lagi dinas diluar kota. Kamu yang sabar sayang,”ujarku coba menghiburnya. 
Satu hari dua hari, saya bisa jadi berbohong akan kehadiran ayahnya. Akan tetapi cerita-cerita di luar sana serta kenyataan yang lalu sukses dibawa anakku kehadapanku membuatku tidak berkutik lagi. Saya tidak dapat lagi membuat figur bapak terunggul buat mereka, karena tingkah suamiku yang menodai kecercayaan buah hatinya sendiri. 
Tangis kamipun pecah saat itu juga. Pada saat sulung memaksa ingin tahu urutan sampai ayahnya terlilit cinta wanita penggoda itu. Walau saya tahu jika anakku tidak mungkin saja dapat mengerti dengan prima mengenai perasaan sakit yang kualami, akan tetapi kucoba jujur kepadanya. 
“Yang sabar ya, Ma. Mungkin saja ibu sakit hati serta terluka karena tingkah bapak, tetapi bersabarlah untuk kami ya, Ma!”ujar putra sulungku penuh berharap. 
Kuhela nafas perlahan-lahan. Benar juga kata putraku, saya tidak bisa menyerah. Hidup kami mesti masih berjalan walau tanpa hadirnya disamping. Untuk sesaat, kucoba bersabar ikuti jalur yang ada sambil mengharap akan tiba keajaiban yang bisa kembalikan semua kebahagiaan. 
Walau diam, saya selalu memonitor gerak-gerik suamiku serta wanita yang beritanya telah dinikahinya dengan siri. Hatiku demikian kuatir pada saat tahu jika wanita itu tengah memiliki kandungan buah cintanya dengan suamiku. Ditambah lagi dengar narasi tetangga seputar rumah wanita nakal itu, suamiku akan menceraikanku serta menikahinya dengan resmi bila sukses memberikannya anak wanita. 
Sumpah untuk sumpah terlontar dari bibirku. Saya tidak menduga, pikiran suamiku demikian picik. Pada saat emosiku mencapai puncak, kembali tangan-tangan mungil anakku coba membelai hatiku sampai saya kembali melunak. 
“Berdoa, Ma. Karena cuma doa yang dapat mengubah semuanya,”kata sulungku bijak. 
Ujian serta nasehat beberapa orang di sekelilingnya, membuat pikiran anakku makin bijak. Benar-benar saya terasa malu, bila tidak dapat jadikan ujian ini menjadi celah untuk meraih ridho_Nya. Sekarang di tiap-tiap waktuku, saya coba hapus resah dengan lantunan doa serta pengharapan untuk keutuhan rumah tanggaku. 
Hari itupun datang, di mana kulihat kekecewaan dimatanya. Wanita yang diinginkan dapat wujudkan impiannya, nyatanya melahirkan 


bayi lelaki. Hatiku tersenyum saat itu, sekurang-kurangnya saya terasa Allah masih tetap berpihak padaku. Akan tetapi kuatir kembali menghantui pada saat saya dengar narasi jika si wanita itu tidak akan sempat menyerah untuk dapat memberi anak wanita pada suamiku. 
Pas tujuh bulan lalu, saya dengar kehamilannya lagi. Kembali saya dirundung kekhawatiran yang dalam pada saat ancaman perceraian sambil melayang dalam ingatanku. Kembali kusungkurkan diri dalam sujud panjang dihadapan_Mu. Kuminta supaya mata hati suamiku terbuka serta dapat mengingat masa lalu indah bersama dengan kami. 


Keajaibanpun berulang. Saya kembali memandang kekecewaan dimatanya. Saat itu, hatiku malah menangis iba. Kubelai rambutnya yang tampak kumal, kutatap mata capek yang tengah tergolek disampingku. Kalau kamu dapat mensyukuri apakah yang ada, mungkin saja takkan berikut peristiwanya. Batinku naik-turun. 


Mengerti kehadiranku, dia langsung bangun. Tidak seperti umumnya yang menghindar dariku, sikapnya tampak manja waktu menyapaku. Saya tahu, ada rindu yang ia taruh untukku sesudah hampir dua tahun lebih dia asik dengan dunia barunya bersama dengan maduku. Ya, rindu begitu jelas tampak pada saat genggaman tanganku dibalasnya dengan pelukan yang begitu hangat. 
Kedekatan kami tidak berjalan lama. Seperti biasa saat tahu suamiku ada di tempat tinggalnya, wanita itu akan langsung menelponnya. Bodohnya lagi, suamiku tidak sempat berupaya adil padaku. Dia akan langsung angkat kaki dari rumah kami. Lagi-lagi saya mesti meredam perih atas sikapnya yang lebih memprioritaskan wanita itu. 
Hari berlalu bulan bertukar menyambut beberapa tahun selanjutnya. Saya masih ada diposisi yang sama, menunggu dengan penuh berharap akan datangnya keajaiban. Suamiku masih tetap asik dengan impiannya, karena wanita itu tidak sempat menyerah memberi keinginan palsunya pada suamiku. SUMBER ZAHRA
Back To Top